Posted by: jabro | June 4, 2008

Antara menjadi karyawan dan pengusaha

Banyak diantara kita kaum pekerja yang membayangkan betapa enaknya seandainya kita bisa menjadi boss dari sebuah usaha. Kerja bisa senaknya, mau berangkat telat nggak ada yang marah-marah, mau istirahat lama-lama tidak sungkan sama atasan dan lain sebagainya.

Namun apakah memang seperti itu keadaannya. Aakah semua khayalan itu akan menjadi kenyataan seandainya kita benar-benar menjadi pengusaha. Benarkah kalau kita datang telat tidak ngaruh apa-apa? Ternyata tidak juga.

Beberapa orang pengusaha yang sempat saya temui, ternyata memiliki pandangan lain yang ternyata berlawanan dengan anggapan para pekera. Justru mereka menganggap bahwa lebih enak menjadi pekerja. Mereka tidak bisa seenaknya saja datang telat atau mengulur kesepakatan dengan klien. Karena itu akan berdampak negatif bagi kelangsungan usahanya.

Yah.. memang susah. Benar adanya peribahasa yang mengatakan rumput halaman rumah tetangga kelihatan lebih hijau dari rumput di halaman rumah sendiri. Kalau istilah orang jawa adalah “wang sinawang”. Kita akan selalu memayangkan sesuatu yang lebih baik ada pada orang lain dari pada apa yang kita terima.

Namun semua itu kembali pada pribadi masing-masing. Banyak ustadz yang mengatakan bahwa kuncinya adalah syukur. Kita harus mensyukuri apa yang ada pada kita dan semua akan terasa nikmat.


Responses

  1. Enaknya jadi pekerja, tp boleh nganggur dan bobo sepuasnya. Plus dikasi akses internet unlimited. Plus bonus berkali2x gaji. Plus gaji ribuan dollar. Plus sekretaris pribadi yang cantik jelita.

    Ga perlu punya usaha sendiri deh :)

  2. Wah… jadi pekerja sekarang idealisme-nya sedang teruji je… Piye mas… masih OT nih… ato masih tetep kukuh sama idealisme kita yo… Jangan mau dibeli dengan OT… yup setuju sekali…..

  3. heheh…. memang bersyukur jalan yang terbaik setelah berusaha menjadi pengusaha….(soale pengusaha gak ada yang miskin mas…tapi pekerja rata rata ya ,,,gitu deh) heheheheh


Leave a response

Your response:

Categories